04 Juli 2026
Sumber: Phan Cuong di Pexels
Sebagian orang memang suka sekali dengan hidangan yang digoreng. Sayangnya, teknik masak ini membutuhkan banyak minyak goreng. Selain sulit berhemat ketika harga minyak goreng naik, menggoreng makanan dengan banyak minyak juga kurang sehat. Solusinya adalah menggoreng makanan dengan teknik shallow frying. Sebagai teknik yang biasa diterapkan oleh para chef, shallow frying adalah teknik menggoreng dangkal karena menggunakan sedikit minyak sehingga hanya sebagian makanan yang tenggelam. Mari mempelajari teknik ini lebih detail agar penerapannya tidak salah dan hasilnya optimal.
Shallow frying adalah teknik menggoreng dengan sedikit minyak, membuat makanan tidak terendam penuh ke dalam minyak panas. Teknik ini biasanya menggunakan wajan datar atau teflon agar panasnya merata tanpa harus menggunakan banyak minyak goreng. Berbeda dengan deep frying yang mengharuskan minyak menggenang agar seluruh bagian masakan terendam.
Cara menggoreng yang satu ini memungkinkan masakan renyah dan tetap kecoklatan pada bagian luarnya. Sedangkan bagian dalamnya matang sempurna dan merata pada semua sisi tanpa harus sering dibolak-balik. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan agar hasilnya optimal seperti itu, jadi pastikan Anda menyimak pembahasan ini sampai akhir.
Teknik masak ini bukan metode baru dalam dunia kuliner karena sudah banyak diterapkan juga pada hidangan tradisional dan rumahan seperti martabak dan perkedel. Minyak goreng yang digunakan lebih sedikit tidak hanya menghemat belanja bulanan. Tapi juga lebih praktis karena minyak lebih cepat panas dan Anda bisa menggoreng makanan dalam porsi kecil tanpa harus menuang banyak minyak.
Tidak berhenti di situ, hasil masakannya juga lebih sehat karena lebih rendah lemak jenuh dan lemak trans. Kesadaran akan gaya hidup lebih sehat juga mendorong banyak orang berusaha mengurangi atau menghentikan masak dengan cara deep frying.
Untuk memahami perbedaannya dengan deep frying, cukup dengan satu indikator yaitu jumlah minyak yang digunakan. Deep frying menggunakan volume minyak goreng yang lebih banyak dibanding shallow frying, bahkan bisa 2 kali lipatnya. Karena lebih banyak, proses untuk memanaskan minyak sampai siap digunakan juga jadi lebih lama.
Kemudian dalam hal kontak panas dengan makanan, deep frying menciptakan suhu tinggi di seluruh permukaan makanan sehingga kelembapan alami pada bagian dalamnya terkunci secara instan. Lalu pada bagian luarnya renyah dan matang melalui proses maillard (proses memasak yang menciptakan warna cokelat dan rasa gurih yang khas).
Sedangkan dalam shallow frying, proses maillard tetap terjadi dengan mengandalkan kontak langsung antara makanan dan permukaan wajan. Makanan perlu dibalik agar sisi lainnya juga mendapat kontak langsung. Tekstur yang dihasilkan hampir sama, bedanya bagian dalam makanan lebih lembut karena matang secara perlahan.
Beberapa makanan yang cocok dimasak dengan teknik deep frying adalah ayam goreng krispi, kentang goreng, keripik, pastel, dan lain sebagainya. Sedangkan hidangan yang idealnya digoreng dengan teknik shallow frying adalah ikan atau ayam fillet, telur dadar/ceplok, daging burger, bakwan, tahu-tempe goreng, dan lain-lain.

Sumber: Salim Da di Pexels
Mempraktikkan shallow frying adalah mudah jika Anda memahami prinsipnya. Tidak asal menggunakan sedikit minyak, pahami panduan praktis yang perlu diterapkan saat akan menggoreng dangkal.
1. Pertama, pilih wajan yang datar seperti wajan anti-lengket atau teflon agar minyak goreng memiliki suhu yang sama pada semua sisi.
2. Kedua, tuang minyak sampai tingginya minimal sepertiga dan maksimal setengah dari tinggi kira-kira makanan yang akan digoreng.
3. Ketiga, panaskan minyak dengan api sedang cenderung besar sampai suhunya cukup tinggi agar makanan langsung mendesis begitu menyentuh minyak. Jika memasukkan makanan sebelum minyak panas, makanan akan terlalu banyak menyerap minyak. Hindari suhu terlalu tinggi agar masakan tidak cepat gosong padahal bagian dalamnya masih mentah.
4. Keempat, masukkan makanan dengan memberi jarak yang cukup antar-makanan. Hindari menggoreng terlalu banyak makanan agar suhu di dalam wajan tetap stabil.
5. Kelima, Anda hanya bisa membalik makanan satu kali agar tekstur dan bentuknya tidak rusak. Kenali tanda makanan sudah bisa dibalik, di antaranya pinggiran makanan berubah warna kecoklatan, makanan sudah tidak lengket di wajan, bagian bawah makanan sudah kokoh atau kaku, dan gelembung atau letupan minyak di sekitar makanan berkurang.
6. Terakhir, tiriskan makanan segera agar sisa minyak berkurang. Beberapa tips untuk mengefektifkan tahapan ini adalah memposisikan makanan berdiri, tidak menumpuk makanan agar uap panasnya tidak terperangkap dan membuat makanan lembek, dan bantu serap sisa minyak dengan tisu dapur.
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan dan membuat shallow frying gagal adalah karena nyala api yang terlalu besar atau terlalu kecil. Jika api terlalu besar, makanan berisiko lebih cepat gosong sedangkan bagian dalamnya belum matang. Sedangkan api yang terlalu kecil dapat memicu penyerapan minyak berlebihan oleh masakan tersebut. Selain itu terlalu sering membalik makanan juga akan merusak tekstur dan/atau bentuk makanan yang digoreng. Kesalahan umum terakhir adalah menggunakan minyak terlalu sedikit yang menyebabkan makanan tidak matang merata.
Oleh karena itu semua, kontrol api tidak boleh diremehkan ketika menerapkan metode masak ini. Shallow frying adalah metode memasak yang butuh kontrol suhu minyak dan panas api yang stabil agar tingkat kematangan masakan sempurna merata ke seluruh sisi. Selain itu, intensitas api yang pas akan membantu mengurangi penyerapan minyak oleh masakan. Artinya, selain jumlah minyak dan skill menggoreng, Anda juga perlu performa alat masak atau kompor yang bisa diandalkan.

Salah satu rekomendasi alat masak yang cocok untuk berbagai teknik masak di dapur keluarga Indonesia adalah kompor gas kaca Niko. Dengan api biru stabil yang konsisten, perangkat Niko yang satu ini mampu mengoptimalkan proses menggoreng shallow frying maupun deep frying. Selain itu, intensitas api juga mudah dikontrol secara presisi untuk mendapatkan tingkatan suhu yang pas. Nyala api konsisten juga membuat distribusi panas merata dari awal menggoreng sampai selesai.
Tidak berhenti di situ, kompor gas kaca Niko juga dirancang mudah dibersihkan dan dirawat. Material utama berupa kaca temper premium tidak menyerap noda masakan dan cipratan minyak sehingga hanya butuh lap lembut, tampilannya langsung bersih dan mengkilap. Komponen internal maupun eksternalnya juga sudah menggunakan bahan yang tahan lama sehingga pengguna tidak perlu sering servis maupun menggantinya.
Niko juga berkomitmen untuk meningkatkan kepraktisan Anda dalam kegiatan masak melalui perangkat lain. Dua perangkat yang tidak kalah penting untuk produktivitas dapur adalah chopper dan blender. Keduanya sama-sama sudah dilengkapi dengan mata pisau stainless steel, kapasitas wadah yang besar, dan motor yang tidak cepat panas. Kenali setiap fitur dari produk Niko dari website resminya di sini