26 Maret 2026
Sumber Gambar: Niko Electronic dan valeria_aksakova di Freepik
Salah satu pertimbangan keluarga dalam memilih kompor terletak dari kemampuannya membantu menekan pengeluaran. Kompor yang bisa menghemat energi bahan bakar lebih baik tanpa menurunkan performanya adalah tolok ukur yang banyak diidamkan. Dua jenis kompor yang sering menimbulkan perdebatan terkait hal ini adalah kompor gas dan kompor listrik. Jika dibandingkan, lebih menjengkelkan menghadapi tagihan listrik yang naik atau harus sering mengganti tabung gas? Lebih hemat kompor listrik atau gas? Perhatikan simulasi perbandingan kompor listrik dan kompor gas dari biaya bulanan, intensitas penggunaan rumah tangga, serta efisiensinya dalam jangka panjang.
Dalam membandingkan biaya operasional bulanan yang akan dibahas, mari kita menggunakan simulasi karakteristik keluarga yang sama. Berikut ini adalah karakteristik keluarga yang dimaksud.
Anggota keluarga 3-4 orang.
Frekuensi masak 2-3 kali sehari.
Rata-rata durasi masak 60 – 90 menit.
Teknik masak yang paling sering diterapkan adalah merebus, menggoreng, menumis, dan mengukus.
Dengan karakteristik di atas, Anda bisa mengira-ngira kebiasaan, frekuensi, dan intensitas masak keluarga. Perbandingan yang akan kita bahas berikutnya akan fokus pada biaya operasional penggunaan sehingga harga awal pembelian kompor tidak termasuk.
Bicara soal biaya bulanan energi atau bahan bakar yang digunakan, kompor listrik menggunakan energi listrik yang diubah menjadi energi panas. Sedangkan kompor gas menggunakan bahan bakar cair (LPG) yang diubah menjadi energi panas melalui pembakaran gas dan oksigen. Bagaimana membandingkannya? Simak estimasi biaya pengeluaran masing-masing jenis kompor ini.
Konsumsi gas LPG 3 kg rata-rata untuk kegiatan masak ringan 2-3 kali sehari adalah 15 – 22 hari atau 2 – 3 minggu. Jika lebih sering menggunakan api besar, tabung gas 3 kg bisa habis dalam 10 – 12 hari. Kemudian harga gas LPG 3 kg memang bisa berbeda di setiap daerah, namun kami akan mengambil rata-rata Rp. 22.000 karena harga dari agen resmi adalah Rp. 19.000.
Dari data tersebut, didapatkan estimasi biaya konsumsi gas LPG per bulan: 2 tabung X Rp. 22.000 = Rp. 44.000/bulan. Angka ini dikatakan relatif stabil karena harga tabung gas bersubsidi tidak ada kenaikan harga.
Konsumsi daya untuk kompor listrik rata-rata adalah 1.000 watt. Kemudian untuk tarif listrik golongan 1.300 – 2.200 VA dan 3.500 – 5.500 VA adalah Rp. 1.444 per kWh. Dengan durasi masak rata-rata 60 – 90 menit per hari, maka didapatkan perhitungan berikut.
Estimasi biaya konsumsi kompor listrik per bulan: (1 kWh X 1,5 jam X 30 hari) X Rp. 1.444 = Rp. 65.000/bulan. Dengan catatan, penggunaan kompor listrik harian paling sering hanya 1 tungku. Jika pengguna intens memanfaatkan 2 tungku kompor sekaligus, biayanya bisa dua kali lipat sekitar Rp. 130.000/bulan.
Ketika dianalisis dalam hitungan tahunan atau 12 bulan, estimasi biaya energi dan bahan bakar ini bisa berbeda. Hal ini karena biaya listrik bisa mengalami kenaikan tarif setiap tahunnya. Sedangkan biaya gas LPG cenderung lebih stabil, terutama jika Anda masih menggunakan tabung gas 3 kg.
Selain konsumsi energi, kompor listrik dan kompor gas juga memiliki mekanisme distribusi panas yang berbeda. Dampaknya tentu saja terlihat dari performa api dan efektivitas waktu setiap kali masak.
Kompor gas menghasilkan api secara langsung sehingga distribusi panas bisa dilakukan secara instan. Ketika pembakarannya sempurna, panas api akan lebih cepat sampai ke dasar alat masak wajan atau panci.
Sedangkan kompor listrik membutuhkan waktu pemanasan dari tahap menyalakan sampai alat masak di atasnya panas dan siap digunakan. Waktu menunggunya bisa berbeda tergantung jenis kompor listriknya. Kompor listrik induksi membutuhkan paling lama 5 menit, sedangkan kompor listrik konvensional butuh paling lama 3 menit.
Selain pemanasan awal, kontrol intensitas level api dan panasnya juga berbeda. Kompor gas memungkinkan pengguna mengubah level kekuatan api dengan mudah. Respons api dari besar ke kecil atau sebaliknya juga berlangsung cepat tanpa harus menunggu.
Sedangkan kompor listrik membutuhkan pengaturan bertahap, terutama ketika menaikkan level panas dari kecil ke besar. Sebaliknya, menurunkan level api pada kompor listrik induksi bisa dirasakan saat itu juga. Fleksibilitas kontrol api pada kompor listrik tetap dipengaruhi oleh jenis kompor listrik yang digunakan.
Selain kedua tolok ukur sebelumnya, teknik masak pun akan memengaruhi waktu masak. Teknik masak tumis dan goreng lebih cocok menggunakan kompor gas karena lebih fleksibel terhadap pergantian level api. Selain itu, Anda juga bisa mendapatkan aroma smoky untuk beberapa hidangan ketika memasak dengan kompor gas.
Sedangkan kompor listrik lebih cocok untuk teknik masak merebus dan masakan berkuah. Perangkat ini mampu memberikan panas stabil yang baik. Hanya saja, Anda mungkin akan kesulitan mendapatkan aroma khas dari api langsung seperti pada proses memanggang dan menumis cepat dengan api besar.
Ketika dilihat dari penggunaan jangka panjang, tentu biaya perawatan dan ketahanan material akan ikut memengaruhi. Mana yang lebih hemat kompor listrik atau gas soal efisiensi jangka panjang?
Dari segi biaya perawatan, kompor gas membutuhkan perawatan burner dan pembersihan ringan yang rutin. Anda mungkin perlu mengganti beberapa komponen setiap 1 – 2 tahun sekali. Sedangkan kompor listrik berisiko menghadapi kerusakan elemen pemanas yang harganya cukup mahal, terutama jika menggunakan kompor listrik induksi.
Kemudian soal ketahanan material, kompor gas dengan bahan kaca temper memiliki karakteristik yang sama dengan kompor listrik induksi. Bedanya, kaca temper pada kompor gas lebih kuat terhadap beban berat karena memiliki pan support yang memisahkan beban panci langsung ke permukaan kaca. Selain itu, kompor gas kaca juga lebih tahan terhadap benturan ringan karena permukaannya tidak terekspos penuh seperti pada kompor listrik induksi. Lagi-lagi pan support dapat menjadi pelindung yang menghalangi benturan langsung dari benda keras.
Dalam penggunaan jangka panjang, kompor listrik akan membuat penggunanya tergantung pada ketersediaan energi listrik. Sedangkan kompor gas masih bisa digunakan meskipun terjadi pemadaman listrik lokal.
Jika dikaitkan dengan karakter menu hidangan nusantara, kompor gas kaca lebih disarankan karena lebih fleksibel terhadap beragam jenis material alat masak. Anda bisa masak dengan wajan atau panci biasa tanpa merusak struktur utamanya. Berbeda dengan kompor listrik yang hanya bisa memanaskan alat masak yang halus dan rata.

Dari semua penjelasan di atas, terbukti bahwa memilih kompor memang tidak sesederhana memilih harga atau tampilan visualnya. Anda membutuhkan banyak pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk menentukan lebih hemat kompor listrik atau gas. Melihat karakter kedua jenis kompor lalu dikaitkan dengan kebutuhan mayoritas dapur Indonesia, kesimpulan yang bisa kami berikan adalah kompor gas kaca lebih hemat dibanding kompor listrik.
Niko Electronic hadir sebagai rajanya kompor gas kaca karena kualitas material, teknologi sistem pengapian yang efisien, hingga keamanannya bisa diandalkan. Api biru yang stabil dan mudahnya perawatan membuat kompor gas kaca Niko sebagai solusi seimbang rumah tangga Indonesia.
Dalam satu perangkat yang sama, Anda telah mendapatkan burner presisi untuk menghemat konsumsi gas LPG, kontrol api yang responsif, material kaca temper premium setebal 7-8 mm, hingga fitur keamanan tambahan seperti sensor safety pin. Kompor gas kaca Niko dirancang memenuhi kebutuhan dapur Indonesia dengan karakteristik penggunaan intens hampir setiap hari. Dapatkan lebih banyak informasi detail soal seri, model, dan spesifikasinya dari website resmi Niko di sini.